|
Bonjour! Hello and welcome to my blog I pour my heart and thoughts here Pardon my words Tagboard
Please do not spam my cbox. Please put your blog link so I can visit you back. ![]() ![]() |
Atheis - Achdijat Karta Mihardja
[sinopsis]
Hasan (aku), seorang pemuda yang masih tergolong berada dan
punya tingkat stratifikasi sosial yang tinggi di desa asalnya, meninggalkan
orangtuanya dan memulai kehidupan baru di kota Bandung dengan tinggal bersama
bibinya dan bekerja pada sebuah kantor jawatan pemerintah. Kehidupan
sehari-hari masih berjalan normal sebagaimana dari sejak dulu ia menjali
kehidupan di desa hingga ia bertemu Rusli dan Kartini.
Berawal dari ajakan Rusli, kawan masa kecilnya duluyang
secara tidak sengaja bertemu lagi sekarang setelah lama berpisah. Untuk bertamu
kerumahnya dan terlebih lagi ada perasaan tertentu yang menghingapinya kala
bertemu dengan Kartini yang merupakan teman Rusli, pertama kali berjumpa, Hasan
jadi sering mampir kerumah Rusli. Dan mulailah Hasan mencebur dalam pergaulan
Rusli dan Kartini, serta kawan-kawan mereka yang merupakan aktivis ideologi
marxis.
Hasan yang dulunya tetap mampu hidup sebagaimana biasa di desanya
walaupun berada ditengah-tengah kemodernan kota Bandung mulai berubah. Hal yang
utama adalah menyangkut sisi relijius yang selama ini sanggup dipegang
teguhnya. Semakin ia berkumpul dalam forum-forum diskusi pemikiran marxis Rusli
dan kawan-kawan. Ia mulai perlahan-lahan Hasan meninggalkan gaya hidupnya yang
lama.
Tentu saja ideologi marxis akan sangat menubruk pemahaman
keagamaan tradisional Hasan. Dan ini juga tak berlangsung mudah. Pada awalnya
Hasan masih sangat keras untuk berusaha melawan jalan pemikiran kawan-kawan
marxisnya. Hal ini ditunjukan tekadnya suau kali untuk menyadarkan Rusli dan
kawan-kawan untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan semangat ia mendatangi
Rusli, namun ternyata Hasan kalah dalam berdebat.
Rusli di gambarkan sosok yang sangat cerdas dan pintar
berwacana, tidak sebanding dengan Hasan yang masih sederhana wawasan maupun
pola pikirnya. Hasan menyerah, ia bergabung dalam lingkungan marxis itu dan
terus terpengaruh makin dalam.
Sewaktu ia kembali kerumah orang tuanya di desa wanaraja,
kebetulan sama Anwar (salah seorang kawan marxisnya yang paling gila), Hasan
bahkan berani untuk berterus terang kepada orang tuanya tentang pemahaman
keimanan terbarunya. Dan tentu saja untuk itu Hasan harus membayar dengan
perpisahan untuk selamanya.
Namun di tengah terperosoknya Hasan ke dalam lingkungan
marxis, ia sebetulnya juga tak sepenuhnya sanggup dan mau untuk mengikuti
ideologi tersebut. Keberadaan seorang Kartinilah yang menjadi perangsang
baginya untuk terus berada di komunitas yang membuat ia kebanyakan hanya jadi
penonton yang pasif dalam berbagai saling lempar wacana yang ada.
Hingga akhirnya Hasan kawin dengan Kartini pada awalnya
mereka berbahagia. Tentu tak lama pula datanglah masa sengsara, Hasan dan
Kartini sering bertengkar. Dan pertengkaran itu berujung perpisahan. Sumber
konfliknya uatamanya adalah Hasan tidak suka gaya hidup modern Kartini. Hasan
masih memendam cara pikir yang konservatifnya.
Dalam keterlibatan ia bergabung dalam dunia kaum
"ATHEIS", ia masih mendekap erat pandangan-pandangan masa lalunya.
Dan pertentangan pikiran ini cukup menyiksa hari-hari Hasan. Yang hanya sanggup
diobati, awalnya dengan impian akan keanggunan Kartini, tetapi selain itu Hasan
pun berharap dengan penderitaan fisik berupa penyakit paru-paru yang
dideritanya.
Suatu hari Hasan mengetahui bahwa di suatu hotel Anwa pernah
berniat memperkosa Kartini, dalam marah ketika berjalan mencari Anwar, ia
ditembak oleh tentara Jepang yang menuduhnya mata-mata. Hasan tersungkur oleh
terjangan peluru dan mengucap takbir (Allahu Akbar), sisa-sisa relijius yang
terpendam dihatinya selama ini keluar juga akhirnya. Ia mati di penjara ssebab
dikabarkan tak sanggup menahan siksa. Kartini sangat sedih dan terpukul begitu
mendengar kabar Hasan yang dicintainya.
![]() Label: Achdijat Karta Mihardja |